Berita Terbaru

Supervisi Akademik Berbasis Coaching Pendekatan TIRTA Tingkatkan Kompetensi Guru di SMAN 1 Cigalontang

S
Sekretariat Pascasarjana
•
30 August 2024
•
3 Menit Baca
Supervisi Akademik Berbasis Coaching Pendekatan TIRTA Tingkatkan Kompetensi Guru di SMAN 1 Cigalontang
Tasikmalaya, Agustus 2024 — Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran terus dilakukan melalui penguatan kompetensi guru. Salah satunya melalui Program Supervisi Akademik berbasis Coaching dengan pendekatan TIRTA yang dilaksanakan di SMAN 1 Cigalontang pada Agustus 2024.
Kegiatan tersebut melibatkan Nurlaela, S.Pd., M.M., guru Bahasa Inggris SMAN 1 Cigalontang, sebagai pendamping dalam proses supervisi akademik bersama guru sasaran. Kegiatan diarahkan pada penilaian sekaligus pendampingan terhadap praktik mengajar guru, mulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan di kelas, hingga refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan.
Supervisi akademik berbasis coaching dengan pendekatan TIRTA memberikan ruang bagi guru untuk tidak hanya menerima penilaian, tetapi juga melakukan refleksi secara mandiri terhadap praktik pembelajarannya. Melalui proses tersebut, guru didorong untuk mengenali kekuatan yang telah dimiliki sekaligus mengidentifikasi aspek-aspek yang masih perlu dikembangkan.
Menurut Nurlaela, S.Pd., M.M., program tersebut memberikan manfaat nyata bagi guru dalam meningkatkan kemampuan merancang dan melaksanakan pembelajaran.
“Program ini sangat membantu guru untuk lebih meningkatkan kemampuan dalam merancang RPP, mengimplementasikannya di kelas, dan mengetahui arah kelebihan serta hal-hal yang perlu diperbaiki dari rancangan yang telah dibuat dan diimplementasikan berdasarkan pada minat, bakat, dan gaya belajar siswa,” ungkap Nurlaela.
Ia menjelaskan bahwa proses pendampingan juga semakin memperkuat pemahaman guru mengenai pentingnya differentiated teaching, yaitu pembelajaran yang memperhatikan keberagaman karakteristik dan kebutuhan peserta didik.

Guru Peserta Mendapatkan Ruang untuk Berefleksi
Bagi guru yang menjadi sasaran supervisi, kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dari proses supervisi yang hanya berorientasi pada penilaian. Guru mendapatkan kesempatan untuk mendiskusikan rancangan pembelajaran, praktik mengajar, serta berbagai tantangan yang dihadapi ketika pembelajaran berlangsung.
Dari proses tersebut, peserta guru memperoleh pemahaman bahwa perencanaan pembelajaran perlu disusun bukan hanya berdasarkan materi yang akan disampaikan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan awal, minat, bakat, dan karakteristik belajar siswa.
Kegiatan pendampingan juga memberikan kesempatan kepada guru untuk melihat kembali praktik pembelajaran yang telah dilakukan. Melalui refleksi tersebut, guru dapat mengetahui bagian pembelajaran yang sudah berjalan dengan baik sekaligus menentukan aspek yang perlu diperbaiki pada pembelajaran berikutnya.
Kesan yang muncul dari guru peserta adalah bahwa kegiatan supervisi menjadi lebih bermakna karena memberikan kesempatan untuk berdiskusi, mendapatkan masukan, dan merefleksikan praktik mengajar secara lebih terbuka. Pendampingan tidak hanya membantu guru melihat kekurangan, tetapi juga mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, pesan dan harapan dari peserta guru adalah agar kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Supervisi akademik diharapkan tidak berhenti pada kegiatan observasi atau penilaian, tetapi menjadi bagian dari proses pengembangan profesional guru.
Melalui pendampingan tersebut, guru diharapkan semakin mampu menyusun pembelajaran yang berkualitas dan relevan dengan kondisi peserta didik. Hal ini sejalan dengan prinsip Teaching at the Right Level (TaRL), yaitu memastikan pembelajaran diberikan sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan siswa.
Nurlaela menegaskan bahwa praktik supervisi akademik berbasis coaching tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi guru untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Praktik ini diharapkan menjadi landasan kuat bagi guru untuk menciptakan rencana pembelajaran yang berkualitas yang mengedepankan kebutuhan siswa melalui Teaching at the Right Level,” tuturnya.
Dengan demikian, Program Supervisi Akademik berbasis Coaching pendekatan TIRTA di SMAN 1 Cigalontang tidak hanya menjadi sarana untuk melihat kualitas praktik mengajar guru, tetapi juga menjadi ruang refleksi, kolaborasi, dan pengembangan profesional guru dalam mewujudkan pembelajaran yang semakin berpusat pada peserta didik.

Bagikan artikel ini jika bermanfaat!